Friday, January 24, 2014

BBB : Bukan Bisul Biasa

Lagi iseng buka-buka folder foto di laptop, nemu foto-foto jaman Aa dirawat di RS gara-gara bisul. Iyah ini BBB, Bukan Bisul Biasa. Jadi gini ceritanya..

Pertengahan bulan Februari 2013, ada benjolan di kepala belakang Aa, deket leher. Tadinya sih ukurannya selayaknya bisul, seukuran 1 butir M&M lah. Seminggu kemudian, bisulnya makin gede. Ibu nganggep itu bisul biasa, pake salep item (entah apa namanya) biar mateng dan dipencet biar "mata"nya keluar. Tapi semakin dipencet, nanah yang keluar banyak, karena lubang keluar nanahnya ternyata banyak. Sekitar 6 atau lebih. Tapi si "mata" tak kunjung keluar. (buat yang geuleuhan, jangan liat gambar ini ya)


 

Karena ada tugas kantor yang mengharuskan ibu saya ke Medan, ibu pengen bisul Aa segera diambil "mata"nya. Supaya pergi ke Medannya tenang. Jadilah Aa dibawa ke RS Advent. Ternyata setelah sampai RS Advent, dokter yang nanganin Aa langsung curiga liat keadaan fisik Aa. "Ini bukan bisul masalah utamanya, saya curiga sama kadar gula darahnya", kata dokter. Aa memang punya riwayat diabetes, katahuan satu tahun yang lalu tapi waktu itu sudah normal lagi kadar gula darahnya. Dengan menggunakan alat cek gula darah portable, darah Aa diambil. Hasilnya, kadar gula darah Aa ngga terdeteksi, yang artinya kadar gula darah Aa udah di atas 500. Setelah dicek lab, ternyata kadar gula darah Aa mencapai 770!! Nilai normalnya itu kalo ngga salah 140. Aa yang waktu itu memang sudah susah makan, mual-mual, terlihat sangat lemas. Berat badannya aja sampai susut 20 kg.

Aa waktu mau dirawat inap. Kuyus banget

2 bulan sebelum Aa dirawat
Ngga ada tawar menawar, Aa harus dirawat saat itu juga. Dokter langsung ngasih tindakan suntik insulin dengan dosis tinggi. Setelah kadar gula darah Aa mencapai 200, baru boleh dilakukan tindakan operasi buat ngambil si sumber bisul itu. Dari 700 ke 300 berjalan cepat, kira-kira setengah hari. Dari 300 ke 200 cukup lama, semaleman. Dan baru bisa di operasi besoknya. Setelah dioperasi, baru ketahuan kalo diameter bisulnya berukuraann... 6 CM. BESAAAAARR...
 
Aa disuntik insulin untuk nurunin gula darahnya

Cek jantung sebelum operasi

Setelah operasi

Setelah 6 hari di RS, baru semangat lagi makannya

Bubur kacangnya langsung diabisin, hihihi
Setelah operasi itu, Aa masuk NICU selama semalem biar stabil dulu. Lalu dipindah ke kamar rawat dan proses pemulihannya sampai 3 hari. Total nginep di RSnya sih 6 hari. Ibu jaga full day. Bapa jaga setengah hari shift pagi-sore. Saya jaga setengah hari shift sore-pagi karena harus ngantor.

Alhamdulillah, sekarang Aa udah sehat. BBB itu jadi peringatan buat kita sekeluarga untuk jaga Aa lebih baik lagi. Meminimalisir makanan manis, rajin cek kadar gula darah, minum ramuan (bahasanya ibu, hehehe) dan (harusnya sih) rajin ngajakin olah raga.

Monday, December 2, 2013

So It's You

Bertahun-tahun, aku memanggilmu dalam setiap sujudku. Kamu, yang aku tidak tahu siapa, bagaimana rupamu, seperti apa lengkungan senyummu dan di belahan dunia mana kamu berada masih menjadi misteri untukku. Setiap hujan turun, aku selalu menyelipkan doa dalam tetesan hujan. Tuhan, tolong sampaikan pada air yang jatuh menetes dari langitMu ini, tolong temukan dia, belahan jiwaku. Katakan bahwa aku menunggunya di sini.

Aku di sini telah lelah dengan pertanyaan-pertanyaan mereka yang tidak mengerti aku. Tapi aku tidak pernah lelah menunggumu. Karena aku yakin kau akan datang di saat yang tepat. Tidak akan terlambat ataupun datang terlalu awal.

Mei 2013, dengan rencana indahNya kami dipertemukan kembali. Sedetik bertemu denganmu, seketika itulah gembok hatiku menemukan kuncinya. Padahal sudah 9 tahun kami saling mengenal namun tidak pernah ada perasaan seperti malam itu. Mungkin ini yang namanya "dipertemukan pada waktu yang tepat".

Sungguh dengan ridoNya semua jalan dibukakan dengan mudah. 1 Desember 2013, aku menganggukkan kepala, menerima pinanganmu. Sekarang aku tahu nama yang harus aku selipkan di setiap sujud dan doaku. Alhamdulillah...



Sunday, October 27, 2013

Mamang Bebeb

Pertemuan kami dimulai sekitar 2 tahun yang lalu. Sore itu, saya pulang kantor dan memanggil salah satu ojeg yang bergerombol di pangkalan. "Riung Sauyunan," saya menyebutkan tujuan saya. Dengan motor bebeknya, tukang ojeg itu bergegas mengantar ke alamat yang dimaksud. Sesampainya di rumah, saya membayar 5000 rupiah. Tiba-tiba tukang ojeg itu bilang, "kalau butuh dijemput, bisa sms saya, teh."

Saya diam sejenak. "Oh, boleh.." jawab saya ragu.

"Catat saja nomor hape Mang," tukang ojeg itu menyebutkan beberapa deret angka. "Tulis aja, Mang Oboy," lanjut tukang ojeg menyebutkan namanya tanpa saya minta.

Dari penampilannya yang berambut gondrong, saya agak waspada menanggapi tawaran Mang Oboy yang bisa antar jemput. Kejahatan ada dimana-mana. Apalagi saya wanita. Ah tapi ngga ada salahnya juga saya menyimpan nomor hapenya.

"Don't judge the book by its cover" itu benar adanya pemirsaaaa.. Mang Oboy itu ternyata baik, bisa dipercaya dan bisa diandalkan. Saya, yang waktu itu (ehem) jomblo sangat sangat terbantu oleh jasa antar jemput yang bisa di-calling kapan saja dimana saja. Mang Oboy itu lebih setia dari pacar. Hahahaha.. Ngga berlebihan lho. Saya tinggal sms, "Mang, tolong jemput saya di MTC jam 9 (malam) ya". Ngga pake ribet tanya "sama siapa aja disana?" atau "aduh maaf aku lagi banyak kerjaan" mamang bales sms secepat kilat "ya teh" dan voilaaaa.. Mamang udah standby di TKP pada jam yang diminta.

Obrolan dalam perjalanan sama Mang Oboy juga suka ajaib. Wkt musim Pilkada Bdg, Mang Oboy kasih pendapat tentang pilihannya, Ridwan Kamil. Hihihiii.. Iya dia terang-terangan ceritain pilihannya. Katanya, Ridwan Kamil itu pinter, kan dosen ITB, ngga akan korupsi, muda, dan pasti banyak yang milih karena terkenal di kaum intelek. Trus Mamang juga cerita keterlibatannya di panitia Pilkada di TPS di lingkungan rumahnya. Sampai-sampai Mamang bisa nyebutin persentase tiap peserta Cawalkot. Emezing, Mang!!

Mamang juga suka ceramahin saya masalahhh.. Jodoh!! Mamang suka tanya sekaligus besar-besarin hati saya. "Tenang saja, teh, jodoh teteh pasti datang, bla bla bla.." pokoknya sepanjang jalan saya diceramahin, disuru sabar juga dibarengi ikhtiar dan doa minta yang terbaik sama Allah. Kalo udah deket-deket tempat tujuan, Mamang tutup ceramahnya dengan doa, "Mamang doakeun, sing teteh segera dipertemukan dengan jodoh teteh yang terbaik". Saya cuma jawab, "Aamiin, Mang," padahal dalam hati saya teriak, "AAMIIN YA ALLAH, AAMIIN".

Sekian cerita saya tentang Mang Oboy, yang oleh teman-teman kantor saya dipanggil Mamang Bebeb karena saking setianya anter jemput saya..

Tuesday, October 8, 2013

P E N G U M U M A N

Dikarenakan tulisan saya yg berjudul "Tunggu Aku di Pelaminan" banyak disangka kisah nyata, saya klarifikasi ya.. Tulisan itu hanya kisah fiktif belaka. Tulisan itu mau saya masukin ke kuisnya Afgan yg ini. Pengen mejeng di websitenya Afgan!! Pengen dapet hadiah duitnya juga sih, hehehe.. Mohon doa restu :)

Monday, October 7, 2013

Tunggu Aku di Pelaminan

"Sampai kapan kamu nunggu ketidakpastian?" tanya mama padaku hampir setiap hari.

Ah aku bosan dengan pertanyaan yang sama. Apa aku harus menuliskan jawabanku di dahiku agar mama bisa langsung membaca jawabanku tanpa bertanya? Karena bagaimana pun pertanyaannya, jawabanku tetap sama, "Aku akan menikah hanya dengan Rian. Titik."

Rian. Teman kampusku sejak enam tahun yang lalu. Teman curhat. Teman belajar. Teman gila-gilaan. Dan aku berharap suatu hari, Rian akan menjadi teman hidupku, temanku menghabiskan waktu dan menua bersama.

Namun mama menganggap semua mimpiku hanya sebatas fatamorgana. Jarak antara aku dan Rian terlalu jauh. Aku wanita dengan karier cemerlang. Dua tahun bekerja di bank ternama dengan posisi menjanjikan. Aku sudah bisa membeli mobil sendiri. Liburan tiap bulan pun bisa saja aku lakoni.

Sedangkan Rian masih pontang panting mencari tempat yang nyaman untuk kariernya. Dua tahun lulus kuliah, dia belum mendapatkan pekerjaan tetap. Untuk menghidupi diri sendiri pun dia masih berjuang dengan susah payah. Tapi aku yakin, dia hanya butuh waktu sedikit lagi untuk menemukan apa yang dia cari selama ini.

Tapi orang tuaku, terlebih mama, sudah tidak sabar melihat anak perempuan satu-satunya ini menikah. Mama tidak pernah melihat perjuangan kami berdua selama enam tahun ini. Mama tidak pernah mau mengerti dengan hatiku. Kadang mama secara tiba-tiba membuatkanku janji kencan dengan anak temannya. Atau pernah suatu hari aku dipaksa menemaninya ke acara pernikahan anak temannya. Kemudian mama mengenalkanku pada teman-temannya. Iya, teman-teman yang juga ditemani anak lelaki mereka.

Aku sangat mencintai Rian. Aku menemukan semua yang aku cari ada dalam dirinya. Aku melihat masa depanku ada pada matanya. Dengannya, aku menjadi orang yang lebih baik. Dan aku masi memegang kata-katanya saat kami diwisuda dua tahun lalu, "tunggu aku di pelaminan". Iya, aku akan sabar menunggumu datang untuk meminangku di depan orang tuaku..

Thursday, August 1, 2013

Darimu, aku belajar kehidupan..


Saya sering iri melihat adegan seperti di foto tersebut. Walaupun saya sudah besar, kadang saya ingin kembali menjadi bocah kecil, berjalan bersama kakak saya sambil berpegangan tangan. Pegangan tangannya adalah kehangatan yg saya anggap sebuah perlindungan seorang kakak laki-laki kepada adik perempuannya. Sayangnya, saya tidak diberi kesempatan merasakannya. Aa, begitu saya memanggilnya, sudah terkena sindrom autisme. 

Aa terlahir normal. Tak kurang satu apapun. Namun di umurnya yg ketiga tahun, Aa tiba-tiba terserang panas tinggi.  Perubahan perilaku nampak setelahnya. Aa berhenti berbicara. Ibu menyadarinya saat saya, yang hanya terpaut 1 tahun, sudah banyak mengoceh, sedangkan Aa hanya terdiam sepanjang hari. Aa tidak akan menolehkan mukanya bila dipanggil, kecuali ibu yg memanggil. Aa menjadi lebih hiperaktif. Lepas dari pandangan ibu barang sedetik, Aa sudah menghilang. Tiba-tiba Aa sudah berada di sawah, berendam dalam kubangan lumpur.

Selama 26 tahun saya telah mengenal Aa. Selama itu pula saya terus berproses dan belajar. Belajar iklas, belajar memahami, belajar adil dan belajar menyayangi dengan tulus. Dan perjalanan itu tak selalu mulus. Waktu kecil, saya sering iri dengan "perbedaan" treatment yg ibu terapkan pada saya, kakak perempuan saya dan Aa. Saat itu, saya menuduh ibu tidak adil. Aa boleh begini tp saya tidak boleh. Saya harus begitu tapi aa boleh tidak begitu. Kadang saya protes, tapi ibu selalu bilang, "adil itu tidak selalu sama, tapi sesuai dgn tempatnya". Iya, Aa berbeda, maka kebutuhan akan perhatiannya pun pasti berbeda.

Sebagai anak bungsu, saya merasa masih punya adik. Ada Aa yang harus saya jaga. Walau sekarang sudah tidak hiperaktif seperti waktu kecil, tapi saya sering waswas. Apakah dia berjalan terlalu ke tengah jalan saat saya mengajaknya jalan-jalan pagi. Atau dengan sigap saya melarang Aa membuka pintu saat ada orang asing mengetuk pintu rumah kami. Saya juga memastikan kumis dan jambangnya tidak tumbuh terlalu lebat. Bila sudah lebat, dengan pisau cukur dan foam, saya mulai mencukurnya. Aa pasrah saja, diam menerima mukanya dipermak. Satu-satunya cara yang bisa saya lakukan agar saya merasa menjadi seorang "adik" adalah dengan bermanja-manja, minta dipeluk atau digendong di punggungnya.

Kadang saya bertanya pada Tuhan, mengapa kakak saya harus autis? Apakah Aa bisa sembuh? Karena saya pun ingin merasakan memiliki kakak laki-laki. Yang menggenggam tangan saya saat berjalan, marah saat ada berandalan yang mencoba mengganggu, atau menjadi teman curhat saat saya menaksir teman laki-laki. Namun semua tanya pasti menemukan jawaban. Dan saya menemukan jawaban itu saat saya melihat kedua orang tua saya. Hati ibu dan bapa pasti lebih sakit dari saya, melihat anak laki-laki satunya, harapan mereka, harus berbeda dengan anak-anak lainnya. Tapi mereka dengan iklas bisa menerima suratan takdir yang sudah Tuhan gariskan. Aa adalah anugrah. Dan saya sebenarnya beruntung, diberi kesempatan untuk lebih memahami manusia yg luar biasa seperti Aa.

***

So please, STOP using autism as a joke
Karena bagi sebagian orang, itu menyakitkan

Thursday, July 4, 2013

Mimpi Setinggi Pesawat Terbang

"Siapa yg belum pernah naik pesawat terbang??" tanya pengajar.

Dengan sigap saya mengacungkan tangan kanan saya. Lima detik kemudian saya segera menurunkan tangan dengan perasaan malu luar biasa. Hanya tangan saya yang mengacung ke udara di dalam kelas itu.

Gimana ngga malu, kejadian itu berlangsung pada tahun 2011, saat saya mengikuti Diklat Prajabatan. Dimana umur saya waktu itu sudah 25 tahun. Sudah hidup di dunia selama seperempat abad tapi hanya saya satu-satunya di kelas diklat tersebut yg belum pernah naik pesawat terbang.

Dan barulah saya sadar, kenapa sampai saya belum pernah naik pesawat terbang. Liburan bersama keluarga tidak pernah keluar pulau Jawa, bahkan tidak pernah sampai perbuan Jawa Tengah - Jawa Timur. Lingkup pekerjaan saya hanya sebatas Jawa Barat. Ah itu hanya alasan-alasan pembenaran. Orang lain bisa, kenapa saya tidak?? Dari rasa malu, muncullah tekad bulat bahwa saya harus segera mencicipi pesawat terbang. HA HA HA.. Mimpi yang aneh ya? Biarin, pokonya saya harus segera merealisasikan mimpi saya itu.

Saya mulai mencari celah, gimana caranya supaya bisa terbang. Kata uwa saya, ya naik pesawat aja dari Bandung ke Jakarta. Ah ngga, masa naik pesawatnya bentar, cuma setengah jam kan?? Celah lainnya --> liburan. Haaaa... Liburan kemana?? Musti ngerayu temen, cocok-cocokin tanggal, booking sana sini. Ribeuuudh.

Sampai akhirnya, terjadi obrolan iseng sama temen kuliah saya yang orang Gorontalo, namanya Nurilma. Juni 2012. Saya bilang, saya pengen kesana, ke Indonesia Timur. Sumpah, ini obrolan iseng yang ngawang-ngawang ga dimasukin hati banget. Tapi setelah selesai ngobrol, tekad saya kembali bulat. Naik pesawat terbang ke Indonesia Timur kayaknya menyenangkan. Mana disana ada temen yg siap menampung. Cucok abes. Setelah tekad sudah bulat, masalah lain muncul, restu orang tua. Grrrrrr... Ini yg lebih bikin parno. Musti cari waktu yang tepat buat ngomong. Alesan utama : uhuhuhu... pengen naik pesawat. Alasan pendukung : kan disana ada temen yg siap nampung, terjamin tidur, makan dan jalan-jalan. Yakan yakan.. :)))

Dan jawaban ibu kadang boleh kadang ngga ngejawab. Cek-cek tiket ampir tiap minggu. Kadang suka ngeliatin harga tiketnya ke ibu. Bu.... boleh ya.. Sampai akhirnya izin itu didapat, rezeki datang dan harga tiket masih terjangkau : Agustus 2012, saya beli tiket PP pesawat Sriwijaya Air ke Gorontalo. Beli online. Sebelom nge-iya-in di webnya, saya sempet solat dan berdoa dulu, kalo memang baik buat saya, tolong mudahkan. IYA!! Saya emang lebay. Yatapi kan tiket PP ini harganya hampir satu bulan gaji saya. Kalo batal di tengah jalan kan ga lucu banget. Setelah muncul bukti booking online, saya lgsg minta anter ke ATM buat transfer. DEAL (insya Allah) : 14 November 2012 CGK-GTO | 18 November 2012 GTO-CGK.

Sebelom berangkat, saya minta diajarin dulu langkah-langkah mulai dari masuk bandara sampai sampai di bandara tujuan. Maklum, saya sendirian di perjalanan. Kalo cengo-cengo sendiri di bandara ntar disangka TKI mo ke Malaysia lagih. Ntar digiring agen TKI #mulailebay  Dan taukah, pas hari H saya dianterin ke bandaranya sekeluarga, udah kayak mau naek haji ajah.

Poto dulu sebelom berangkat

Dengan muka (dipaksa) tenang, hati dagdigdug dan otak mewanti-wanti untuk terus mengingat panduan dari kakak saya, saya menggeret koper saya setelah pamit dengan keluarga. Masuk security check, check in, bayar airport tax, nunggu di ruang tunggu berjalan dgn lancar. Tiba saat suara mba-mba menggaung lewat pengeras suara, memberi informasi bahwa pesawat tujuan Gorontalo akan berangkat, saya beranjak dari kursi tunggu. Kaki dan koper saya bimbing menuju gerombolan orang-orang yg td serempak berdiri saat saya jg berdiri. Ini pasti penumpang ke Gorontalo jg. Jd saya tinggal mengikuti arus kmn mereka bergerak. Haha

Setelah di dalem pesawat, saya sempet kesel dapet kursi di dkt lorong, bukan di deket jendela. Aaaaahhhh.. Jd ga bisa liat pemandangan dari atas kannn?!! Sambil nunggu take off, mata saya sesekali curi-curi pandang ke arah jendela, memastikan saat nanti terbang, saya masih bs liat pemandangan.

Saatnya take off. Pak pilot mulai ngasih bla bla bla. Jantung semakin ga karuan detaknya. Nguuuuung... Pesawat berlari kencang di landasan kemudian menukik ke udara. Bismillah.. Bismillah.. Mulut saya komat kamit baca doa. Punggung dan kepala tegak lurus menempel ke kursi. Tapi mata saya tetap mengintip ke jendela lewat bapa-bapa di samping saya. Subhanallah.. Rumah-rumah berderet rapat, berseling dengan pepohonan dan dibelah oleh sungai yg berkelok-kelok menuju muara. Ahhh.. Ini seperti foto udara yg sering saya lihat di buku. Tiba-tiba air mata menyusup lewat sudut mata. Iya saya cengeng dan lebay. Tapi saya benar-benar terharu. Alhamdulillah.. Terima kasih Allah sudah  mewujudkan secuil mimpi saya :)

Oh satu lagi, akhirnya saya berhasil keluar pulau JAWA!!